Bismillahirrohmanirrohiim..

Tidak bermaksud menggurui, di sini saya hanya akan memberikan sedikit informasi mengenai program bayi tabung menurut pandangan islam. Semoga bermanfaat. Read it, please!  ^^

Bayi tabung, istilah kerennya adalah In Vitro Fertilization. In vitro artinya di laboratorium atau di luar tubuh, sedangkan fertilization artinya pembuahan.  Singkatan bahasa  Indonesianya FIV, Fertilisasi In Vitro adalah usaha fertilisasi yang dilakukan di luar tubuh, di dalam tempat biakan, dengan suasana seperti alamiah. In vitro fertilization atau bayi tabung adalah salah satu program yang ditawarkan dunia kedokteran untuk membantu pasangan suami istri yang belum atau sulit mendapatkan keturunan yang dikarenakan salah satu pihak, baik  suami atau istri kurang normal. Kabarnya, pada 1971 seorang ahli genetika dan biokimia Amerika Serikat bernama Dr. James Watson menyatakan bahwa kemungkinan membuat bayi tabung yang menanamkan ke rahim perempuan ini bukan teori tetapi perlu penelitian yang cukup panjang dan akhirnya baru berhasil bayi tabung pada tahun 1978 dan diberi nama bayi tersebut Louise Brown, di  Indonesia sudah berhasil mengembangkan bayi tabung  tersebut. Dalam proses bayi tabung, sel telur yang sudah matang diambil dari indung telur lalu dibuahi dengan sperma di dalam sebuah medium cairan. Setelah berhasil, embrio kecil yang sudah terbentuk dimasukkan ke dalam rahim dengan harapan dapat berkembang menjadi bayi. Berikut ini adalah tahapan yang dilakukan pada proses bayi tabung…

  1. Seleksi pasien. Apakah  suami-isteri tersebut layak mengikuti program bayi tabung. Bila layak, baru bisa masuk dan mengikuti program bayi tabung.
  2. Stimulasi atau merangsang indung telur untuk memastikan banyaknya sel telur. Secara alami, sel telur hanya satu. namun untuk bayi tabung, perlu lebih dari sati sel telur untuk memperoleh embrio.
  3. Pemantauan pertumbuhan folikel (cairan berisi sel telur di indung telur) melalui ultrasonografi. Tujuannya, melihat apakah sel telur sudah cukup matang untuk ‘dipanen’.
  4. Mematangkan sel telur dengan menyuntikkan obat agar siap ‘dipanen’.
  5. Pengambilan sel telur, kemudian diproses di laboraturium.
  6. Pengambilan sperma suami (pada hari yang sama). Jika tidak ada masalah, pengambilan dilakukan lewat masturbasi. Jika bermasalah, pengambilan sperma langsung dari buah zakar melalu operasi.
  7. Pembuahan atau (fertilisasi) di dalam media kultur di laboraturium. Hasilnya adalah embrio.
  8. Transfer embrio kembali ke dalam rahim agar terjadi kehamilan, setelah embrio terbentuk.
  9. Penunjang fase luteal untuk mempertahankan dinding rahim. Dokter memberi obat untuk mempertahankan dinding rahim ibu agar terjadi kehamilan.
  10. Terakhir, proses simpan beku embrio. Jika ada embrio lebih, bisa disimpan untuk kehamilan selanjutnya.

Subhanalloh yaa ternyata iptek di bidang kesehatan telah berkembang pesat. Kini manusia bisa mewujudkan apa yang dulu mustahil menjadi kenyataan di masa sekarang tentunya dengan ijin Allah SWT juga. Proses seperti ini merupakan upaya medis untuk mengata­si kesulitan yang ada, dan hukumnya boleh (ja’iz) menurut syara’. Sebab upaya tersebut adalah upaya untuk mewujudkan apa yang disunnahkan oleh Islam, yaitu kelahiran dan memperba­nyak keturunan, yang merupakan salah satu tujuan dasar dari suatu pernikahan. Diriwayatkan dari Anas RA bahwa Nabi SAW telah bersabda :

“Menikahlah kalian dengan perempuan yang penyayang dan subur (peranak), sebab sesungguhnya aku akan berbangga di hadapan para nabi dengan banyaknya jumlah kalian pada Hari Kiamat nanti.” (HR. Ahmad)

Namun yang perlu diperhatikan adalah cara-cara yang dilakukan pada program bayi tabung ini. Cara-cara yang dilakukan tentunya  harus sesuai atau tidak bertentangan dengan syara’. Nah berikut ini adalah teknik-teknik bayi tabung yang haram, yaitu:

1. Sperma seorang lelaki yang bukan suami diambil dan dimasukkan ke dalam faraj seorang perempuan sudah menikah tapi bukan istrinya. Cara ini dilakukan manakala sperma suami tidak memiliki kemungkinan untuk membuahi ovum istri.

2. Sperma seorang suami diambil dan digabungkan dengan ovum seorang perempuan yang bukan istrinya. Setelah menjadi embrio maka embrio akan dimasukkan ke dalam rahim istrinya. Maka rahim istri menjadi tempat mengandung, walaupun materi ovum bukan dari dirinya sendiri.

3. Sperma dan ovum diambil dari orang lain, kemudian digabungkan dan setelah menjadi embrio dimasukkan ke dalam faraj seorang istri yang telah bersuami. Kasus ini hampir sama dengan kasus keempat, namun yang menjadi pembeda ialah sperma dan ovum sama-sama berasal dari orang asing (bukan dari pasangan).

4. Sperma dan ovum dari pasangan suami istri yang telah dibuahi dimasukkan ke dalam rahim perempuan asing. Maka perempuan asing ini memiliki fungsi sebagai ibu tumpang bagi janin yang dikandung.

5. Cara kelima memiliki persamaan dengan cara keempat, hanya saja rahim yang digunakan ialah rahim dari istri lainnya bilamana sang suami melakukan poligami.

Sebagai bahan pertimbangan, diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa dia telah mendengar Rasulullah SAW bersabda ketika turun ayat li’an :

“Siapa saja perempuan yang memasukkan kepada suatu kaum nasab (seseorang) yang bukan dari kalangan kaum itu, maka dia tidak akan mendapat apa pun dari Allah dan Allah tidak akan pernah memasukkannya ke dalam surga. Dan siapa saja laki-laki yang mengingkari anaknya sendiri padahal dia melihat (kemiripan)nya, maka Allah akan tertutup darinya dan Allah akan membeberkan perbuatannya itu di hadapan orang-orang yang terdahulu dan kemudian (pada Hari Kiamat nanti).” (HR. Ad Darimi)

Allah SWT juga telah melarang segala hal yang mendekati zina, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran surat Al Isra ayat 32:

Artinya: ” Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”

Segala kesenangan dan kesulitan berpeluang mendatangkan ridha Allah SWT jika dibungkus dengan ketakwaan.. “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (QS. Al Kahfi: 46)

Wallohualambissowaf…

 

Sumber:

…..2005. “Pro Kontra Bayi Tabung”. Dalam Muzakki, 2 (Agustus). Malang.

http://www.ayahbunda.co.id/

http://konsultasi.wordpress.com/